deism
deism merujuk pada sebuah filosofi atau keyakinan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta dan menetapkan hukum-hukum alam yang mengaturnya, namun setelah itu Tuhan tidak lagi melakukan intervensi atau campur tangan dalam urusan manusia maupun jalannya dunia. Konsep ini sangat berbeda dengan teisme, di mana Tuhan dianggap aktif terlibat dalam sejarah manusia melalui mukjizat, wahyu, atau doa.
Bagi penutur bahasa Indonesia, penting untuk membedakan deism dari konsep ketuhanan dalam agama-agama Abrahamik yang umum. Dalam deism, Tuhan dipandang sebagai "Arsitek Agung" atau "Pembuat Jam" yang merancang mekanisme alam semesta dengan sempurna, lalu membiarkannya berjalan sendiri tanpa campur tangan lebih lanjut. Oleh karena itu, penganut deism biasanya menolak konsep wahyu ilahi, kitab suci yang dianggap turun dari langit, atau nabi.
Nuansa Makna dan Perbandingan
Perbedaan utama antara deism dan istilah terkait lainnya adalah tingkat keterlibatan Tuhan:
deism: Tuhan menciptakan dunia tetapi kemudian "pensiun" dari intervensi aktif. Fokus utamanya adalah pada penggunaan akal budi dan observasi alam untuk memahami pencipta.
theism: Tuhan menciptakan dunia dan terus aktif mengaturnya, menjawab doa, dan memberikan wahyu.
atheism: Penolakan terhadap keberadaan Tuhan atau pencipta sama sekali.
pantheism: Keyakinan bahwa Tuhan adalah alam semesta itu sendiri, bukan entitas terpisah yang menciptakannya.
Konteks Penggunaan dan Kesalahan Umum
Kesalahan yang sering terjadi adalah menyamakan deism dengan agnostisisme. Agnostisisme adalah posisi epistemologis yang menyatakan bahwa keberadaan Tuhan tidak dapat diketahui atau dibuktikan, sedangkan deism adalah sebuah keyakinan positif bahwa Tuhan itu ada, namun bersifat non-intervensionis.
Contoh penggunaan yang tepat:
Benar: The philosopher embraced deism, believing that reason alone could reveal the nature of the Creator. (Filsuf itu menganut deisme, percaya bahwa akal budi saja dapat mengungkap hakikat Sang Pencipta.)
Salah: Menggunakan deism untuk menggambarkan seseorang yang percaya pada mukjizat atau intervensi ilahi dalam kehidupan sehari-hari, karena hal tersebut justru bertentangan dengan prinsip dasar deisme.
Secara tata bahasa, deism adalah kata benda tak terhitung (uncountable noun) yang merujuk pada sistem kepercayaan atau doktrin filosofis.
Meanings
Kepercayaan pada sosok tertinggi yang menciptakan alam semesta tetapi tidak campur tangan dalam operasional berkelanjutannya atau kehidupan manusia
The Enlightenment era saw a rise in deism among philosophers who rejected organized religion.
Era Pencerahan menyaksikan peningkatan deisme di kalangan filsuf yang menolak agama terorganisir.