atheist
Kata atheist merujuk pada seseorang yang secara sadar tidak percaya pada keberadaan tuhan atau tuhan-tuhan. Dalam bahasa Indonesia, istilah ini memiliki padanan langsung yaitu "ateis". Penting untuk dipahami bahwa atheist bukan sekadar tidak beragama (yang lebih tepat disebut irreligious atau non-religious), melainkan secara spesifik menolak keyakinan akan adanya entitas ketuhanan.
Nuansa Makna dan Konteks
Penggunaan kata ini bisa bervariasi tergantung pada konteks sosial dan budaya. Dalam diskusi filosofis atau akademis, atheist digunakan sebagai deskripsi posisi intelektual yang netral. Namun, dalam konteks sosial tertentu, kata ini terkadang membawa konotasi negatif atau stigma, tergantung pada norma agama yang berlaku di lingkungan tersebut.
Perlu dibedakan antara atheist dengan agnostic. Seorang atheist biasanya menyatakan ketidakpercayaan terhadap tuhan, sementara seorang agnostic berpendapat bahwa keberadaan tuhan adalah sesuatu yang tidak dapat diketahui atau tidak dapat dibuktikan secara rasional.
Contoh penggunaan tepat: He identifies as an atheist (Dia mengidentifikasi dirinya sebagai seorang ateis).
Perbandingan: atheist (tidak percaya tuhan) vs agnostic (tidak tahu/ragu apakah tuhan ada).
Penggunaan Bentuk Kata
Kata ini berfungsi sebagai kata benda (noun) untuk merujuk pada orangnya. Jika ingin mendeskripsikan sifat, pemikiran, atau perspektif yang berkaitan dengan ateisme, gunakan bentuk kata sifat atheistic.
Contoh kata sifat: an atheistic worldview (pandangan dunia yang ateistik).
Dalam bahasa Indonesia, kedua bentuk ini sering kali diserap menjadi "ateis" (orang) dan "ateistik" (sifat), sehingga penggunaannya cukup konsisten dengan struktur bahasa Inggris.
Meanings
Seseorang yang tidak percaya pada keberadaan tuhan atau tuhan-tuhan
"He has been a lifelong atheist and rejects all religious dogma."
Dia telah menjadi seorang ateis seumur hidup dan menolak semua dogma agama.
Berhubungan dengan atau ditandai oleh keyakinan bahwa tidak ada dewata yang ada
"The philosopher presented an atheist perspective on the origin of morality."
Filsuf tersebut memaparkan perspektif ateistik mengenai asal-usul moralitas.