reason
/ˈɹiːzən/
Kata ini bekerja pada dua ranah yang berbeda: kemampuan intelektual (sebagai 'mesin' logika) dan pembenaran kausal (sebagai jawaban 'mengapa' di balik suatu tindakan).
Saat merujuk pada kapasitas mental, kata ini membawa konotasi stabilitas dan objektivitas. Hal ini sering dikontraskan dengan 'emosi' atau 'insting', yang menunjukkan pendekatan berpikir yang disiplin dan terstruktur.
Sebagai sebuah pembenaran, kata ini berfungsi sebagai jembatan antara suatu tindakan dan tujuannya. Meskipun mirip dengan 'penyebab', reason biasanya menyiratkan niat sadar atau penjelasan logis, bukan sekadar pemicu fisik.
Dalam bentuk kata kerja, terdapat perbedaan halus antara proses internal ('menalar') dan negosiasi antarpersonal ('membujuk'). Hal yang terakhir sering kali menyiratkan adanya upaya untuk menghadapi ketidakrasionalan atau kondisi emosional seseorang.
Countable when referring to a specific motive or justification ('I have one good reason for leaving'). Uncountable when referring to the mental faculty of logic and sanity ('He has lost his reason').
Meanings
Kemampuan pikiran untuk berpikir, memahami, dan membentuk penilaian melalui proses logika
"Humans are distinguished from other animals by their capacity for reason."
Manusia dibedakan dari hewan lain oleh kemampuan akal budinya.
Penyebab, penjelasan, atau pembenaran atas suatu tindakan atau peristiwa
"There is no reason to believe that the project will fail."
Tidak ada alasan untuk percaya bahwa proyek tersebut akan gagal.
Berpikir, memahami, dan membentuk penilaian tentang sesuatu melalui proses logika
"The detective attempted to reason out the mystery using the available clues."
Detektif itu mencoba menalar misteri tersebut menggunakan petunjuk yang tersedia.
Meyakinkan seseorang untuk melakukan sesuatu atau menerima suatu sudut pandang melalui argumen yang logis
"She tried to reason with him, but he was too angry to listen."
Dia mencoba membujuk pria itu, tetapi pria itu terlalu marah untuk mendengarkan.