narrow-mindedness
narrow-mindedness merujuk pada kondisi mental atau sikap seseorang yang tidak terbuka terhadap ide, pendapat, atau pengalaman baru. Dalam bahasa Indonesia, kata ini paling tepat diterjemahkan sebagai "kepicikan". Nuansa utamanya adalah adanya kekakuan berpikir dan keengganan untuk melihat sesuatu dari perspektif orang lain, yang sering kali berakar dari prasangka atau kurangnya paparan terhadap keberagaman.
Berbeda dengan stubbornness (keras kepala) yang lebih menekankan pada penolakan untuk mengubah keputusan atau posisi meskipun ada bukti yang kuat, narrow-mindedness lebih berfokus pada keterbatasan cakrawala berpikir dan kurangnya toleransi terhadap perbedaan.
Perbedaan Nuansa dengan Kata Terkait
narrow-mindedness vs bigotry: Meskipun keduanya melibatkan ketidakterbukaan, bigotry memiliki konotasi yang jauh lebih kuat dan negatif, sering kali dikaitkan dengan kebencian atau intoleransi yang ekstrem terhadap kelompok tertentu (seperti ras atau agama). Sementara itu, narrow-mindedness bisa terjadi dalam skala yang lebih ringan, seperti seseorang yang hanya mau menggunakan metode kerja lama dan menolak teknologi baru.
narrow-mindedness vs prejudice: prejudice (prasangka) adalah opini yang terbentuk sebelum mengetahui fakta sebenarnya, sedangkan narrow-mindedness adalah sifat atau kecenderungan umum untuk tetap menutup diri dari informasi baru yang dapat mengubah prasangka tersebut.
Konteks Penggunaan dan Contoh
Kata ini sering digunakan dalam konteks kritik sosial, diskusi tentang pertumbuhan pribadi, atau analisis karakter. Penggunaannya biasanya menekankan pada hambatan intelektual atau emosional yang menghalangi seseorang untuk berkembang.
Contoh penggunaan yang tepat: The narrow-mindedness of the local administration hindered the development of the community (Kepicikan pemerintah daerah tersebut menghambat pembangunan masyarakat).
Contoh penggunaan yang kurang tepat: Menggunakan narrow-mindedness untuk menggambarkan seseorang yang hanya sekadar lupa atau tidak tahu tentang sesuatu. Kata ini harus digunakan ketika ada unsur "penolakan aktif" atau "ketidakinginan" untuk terbuka.
Secara tata bahasa, narrow-mindedness adalah kata benda abstrak (uncountable noun), sehingga tidak menggunakan artikel a atau an di depannya kecuali jika diikuti oleh kata sifat yang menspesifikasikannya.
Meanings
Sifat tidak mau menerima atau mempertimbangkan ide, opini, atau perspektif yang berbeda
Her narrow-mindedness prevented her from appreciating the cultural richness of the city.
Kepicikannya menghalanginya untuk menghargai kekayaan budaya kota tersebut.