self-sufficiency
Kata self-sufficiency merujuk pada kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup sendiri tanpa bergantung pada bantuan atau pasokan dari pihak luar. Dalam bahasa Indonesia, kata ini memiliki dua nuansa utama yang berbeda tergantung pada konteks penggunaannya.
Nuansa Ekonomi dan Material
Dalam konteks fisik atau ekonomi, self-sufficiency sering diterjemahkan sebagai swasembada. Ini biasanya digunakan untuk skala besar, seperti negara atau komunitas yang mampu memproduksi pangan atau energi sendiri. Fokus utamanya adalah pada ketersediaan sumber daya fisik.
Contoh: food self-sufficiency (swasembada pangan).
Nuansa Karakter dan Psikologis
Dalam konteks personal, kata ini lebih mengarah pada kemandirian. Ini menggambarkan sifat seseorang yang tidak ingin merepotkan orang lain atau memiliki ketangguhan mental untuk mengelola hidupnya sendiri. Perbedaan halus antara self-sufficiency dan independence adalah bahwa self-sufficiency lebih menekankan pada kemampuan praktis untuk bertahan hidup atau berfungsi secara mandiri, sementara independence lebih luas, mencakup kebebasan dari kendali orang lain.
Kekeliruan Umum
Pembelajar bahasa Inggris sering kali menyamakan self-sufficiency dengan independence. Meskipun keduanya berkaitan dengan kemandirian, ingatlah bahwa self-sufficiency lebih spesifik pada aspek "kecukupan" (sufficiency). Jika Anda berbicara tentang kebebasan politik atau status hukum, gunakan independence. Jika Anda berbicara tentang kemampuan menyediakan kebutuhan dasar bagi diri sendiri, gunakan self-sufficiency.
Secara tata bahasa, kata ini adalah kata benda tak terhitung (uncountable noun), sehingga tidak digunakan dalam bentuk jamak.
Meanings
Keadaan atau kondisi mampu memenuhi kebutuhan sendiri tanpa bantuan dari pihak luar
The remote village achieved complete self-sufficiency by farming its own produce.
Desa terpencil itu mencapai kemandirian penuh dengan menanam hasil buminya sendiri.