sore
Dalam konteks fisik, kata ini menggambarkan rasa nyeri yang tumpul dan berdenyut, bukan rasa perih yang tajam atau tiba-tiba. Ini adalah sensasi peradangan atau kelelahan otot yang berlebihan, yang biasanya dikaitkan dengan otot setelah berolahraga atau tenggorokan saat sedang flu.
Secara emosional, kata ini menggambarkan rasa pahit yang membekas. Berbeda dengan kata angry (marah) yang bisa meledak-ledak dan terjadi seketika, merasa sore (kesal) menyiratkan ego yang terluka atau perasaan tidak adil yang bertahan lama. Kata ini sering kali membawa konotasi kekanak-kanakan atau picik (contohnya, seorang "pecundang yang kesal").
Sebagai kata benda, kata ini merujuk pada manifestasi fisik dari kerusakan—seperti kulit yang terkelupas atau lesi. Hal ini berbeda dari rasa sakit secara umum, karena kata ini mengidentifikasi titik cedera tertentu yang terlokalisasi.
Penggunaan sebagai kata keterangan sangat jarang terjadi dan terasa kuno, biasanya muncul dalam literatur lama atau dialek regional tertentu untuk memperkuat suatu emosi atau godaan.
Countable when referring to a specific physical lesion or ulcer on the skin. Uncountable when describing the general state of feeling pain or resentment.
Meanings
Terasa sakit atau nyeri, terutama saat disentuh; meradang
"My muscles were sore after the first day of training."
Otot-ototku terasa pegal setelah hari pertama latihan.
Merasa dongkol, terganggu, atau kecewa tentang sesuatu
"He is still sore about losing the promotion to a colleague."
Dia masih merasa kesal karena kehilangan promosi jabatan kepada rekan kerjanya.
Bagian tubuh yang terkelupas atau nyeri; borok atau lesi
"She had a pressure sore on her heel from the tight shoes."
Dia mengalami luka tekan pada tumitnya akibat sepatu yang terlalu sempit.
Sampai pada tingkat yang besar; parah (arkais atau dialektal)
"They were sore tempted to give up and go home."
Mereka sangat tergoda untuk menyerah dan pulang ke rumah.