black
/blak/
Ketika digunakan sebagai kata sifat, black dapat menggambarkan warna secara harfiah atau digunakan secara metaforis untuk mengartikan jahat, sedih, atau tidak beruntung.
Dalam bisnis dan keuangan, in the black adalah istilah umum yang digunakan untuk menunjukkan bahwa sebuah perusahaan sedang menghasilkan keuntungan dan bukan mengalami kerugian.
Harap diperhatikan bahwa dalam berbagai konteks budaya, black dapat membawa konotasi sejarah dan sosial yang kuat tergantung pada apakah kata tersebut merujuk pada warna, ras, atau suasana hati.
💬Casual Conversation
David just asked for that logo in pure black. Ugh.
David baru aja minta logo itu warnanya `pure black`. Duh.
Bro, thought it was already set. What a pain.
Bro, gue pikir udah beres. Ribet banget sih.
Meanings
Berwarna paling gelap, yang dihasilkan dari ketiadaan atau penyerapan cahaya tampak
"The night sky was pitch black without a single star."
Membuat sesuatu menjadi berwarna hitam; [pola: seseorang menghitamkan sesuatu]
"He used a marker to black out the sensitive information in the document."
Menjadi hitam atau gelap; [pola: sesuatu menghitam]
"The silver began to black after being exposed to the air for too long."
Collocations & Compounds
black hole
lubang hitam; wilayah di ruang angkasa yang memiliki medan gravitasi sangat kuat sehingga tidak ada materi atau radiasi yang dapat meloloskan diri
black market
pasar gelap; perdagangan ilegal komoditas langka yang dikendalikan secara resmi
black tea
teh hitam; teh yang terbuat dari daun yang difermentasi sepenuhnya, sehingga menghasilkan warna gelap
black tie
kode busana formal yang mengharuskan pria mengenakan tuksedo
black sheep
domba hitam; anggota kelompok, terutama keluarga, yang dianggap aneh atau mempermalukan nama baik
Phrasal Verbs
black out
kehilangan kesadaran untuk sementara waktu atau menghalangi cahaya/informasi
Idioms & Sayings
in the black
berada dalam kondisi untung; memiliki lebih banyak uang daripada utang
black and white
memandang suatu masalah secara sederhana, tanpa mempertimbangkan kompleksitas atau nuansa
the blackest of nights
periode kegelapan yang ekstrem atau keputusasaan yang mendalam
Cultural Context
Efek Black Mirror: Refleksi Gelap Teknologi terhadap Masyarakat
Kata black sering kali membangkitkan citra misteri, keanggunan, atau bahkan kengerian. Namun dalam budaya kontemporer, salah satu asosiasi terkuat dengan kata black berasal dari serial antologi yang sangat visioner dan mencekam, Black Mirror. Acara ini tidak sekadar menggunakan warna tersebut secara simbolis; ia menggali lebih dalam ke dalam 'cermin hitam' teknologi kita sendiri, memantulkan kembali potensi masa depan distopia yang sedang kita ciptakan secara aktif, dan terkadang tanpa kita sadari.
Serial ini dengan lihai mengeksplorasi konsekuensi tak terduga dari kemajuan teknologi, mulai dari dampak media sosial terhadap harga diri kita hingga etika kecerdasan buatan dan realitas virtual. Setiap episode menyajikan skenario masa depan terdekat di mana sebuah teknologi baru, yang sering kali merupakan evolusi dari sesuatu yang kita gunakan saat ini, menjadi tidak terkendali, sehingga membawa hasil yang sangat meresahkan dan sering kali tragis. Hal ini memaksa kita untuk menghadapi kenyataan pahit tentang sifat manusia dan hubungan kita dengan alat-alat yang kita ciptakan.
Bayangkan episode seperti 'The Entire History of You', di mana implan digital memungkinkan orang untuk memutar ulang setiap ingatan. Awalnya diperkenalkan sebagai sebuah keajaiban, namun hal itu dengan cepat berubah menjadi alat kecemburuan yang obsesif dan penghancur hubungan. Atau 'Nosedive', yang memvisualisasikan masyarakat yang terobsesi dengan peringkat sosial, di mana setiap interaksi dinilai dan diberi skor, sehingga menyebabkan eksistensi yang putus asa dan penuh kecemasan. Ini bukanlah fantasi fiksi ilmiah; melainkan ekstrapolasi dari tren saat ini yang diperkuat hingga ke tingkat yang mengerikan.
Black Mirror berfungsi sebagai kisah peringatan modern, sebuah 'kotak hitam' digital yang merekam lintasan masyarakat kita. Serial ini mengingatkan kita bahwa meskipun teknologi menawarkan potensi yang luar biasa, integrasinya ke dalam kehidupan kita menuntut pemikiran kritis, pertimbangan etis, dan pemahaman mendalam tentang dampak psikologis serta sosialnya. 'Cermin hitam' tersebut, pada hakikatnya, adalah diri kita sendiri, yang sedang menatap kembali ciptaan kita dan potensinya untuk mengangkat sekaligus menghancurkan kita.