fatalism
fatalism merujuk pada sebuah filosofi atau sikap mental di mana seseorang percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup sudah ditentukan oleh takdir atau kekuatan supernatural, sehingga usaha manusia tidak memiliki pengaruh terhadap hasil akhir. Dalam bahasa Indonesia, konsep ini sangat dekat dengan istilah "fatalisme" atau "sikap pasrah terhadap takdir".
Nuansa utama dari fatalism adalah adanya rasa ketidakberdayaan. Berbeda dengan optimism yang melihat masa depan dengan harapan, atau determinism yang lebih bersifat filosofis-ilmiah tentang sebab-akibat, fatalism sering kali membawa konotasi negatif berupa kepasrahan yang ekstrem atau keputusasaan, di mana seseorang berhenti mencoba karena merasa hasilnya sudah tertulis.
Perbedaan Nuansa dengan Konsep Terkait
Sangat penting untuk membedakan fatalism dengan destiny atau fate. Sementara fate (takdir) adalah konsep tentang apa yang akan terjadi, fatalism adalah keyakinan atau sikap yang muncul akibat kepercayaan terhadap takdir tersebut. Seseorang bisa percaya pada fate tetapi tetap berusaha keras, namun seorang fatalist (penganut fatalisme) cenderung merasa bahwa usaha tersebut sia-sia.
Contoh penggunaan yang tepat: His fatalism led him to give up on his dreams (Fatalisme-nya membuat dia menyerah pada impian-impiannya).
Contoh kontras: Meskipun percaya pada fate, dia tetap bekerja keras untuk mencapai tujuannya.
Konteks Penggunaan dan Jebakan Terjemahan
Dalam bahasa Indonesia, kata "pasrah" sering digunakan untuk menerjemahkan nuansa fatalism. Namun, perlu diperhatikan bahwa "pasrah" bisa bermakna positif (seperti tawakal dalam konteks religius), sedangkan fatalism dalam bahasa Inggris lebih sering dikaitkan dengan sikap apatis atau menyerah pada keadaan yang buruk.
Penggunaan yang salah: Menggunakan fatalism untuk menggambarkan ketenangan pikiran setelah berusaha maksimal.
Penggunaan yang benar: Menggunakan fatalism untuk menggambarkan kondisi di mana seseorang merasa terjebak dalam nasib buruk yang tidak bisa diubah.
Secara tata bahasa, fatalism adalah kata benda tidak terhitung (uncountable noun), sehingga tidak digunakan dalam bentuk jamak.
Meanings
Keyakinan bahwa semua peristiwa telah ditentukan sebelumnya dan oleh karena itu tidak terelakkan, sehingga upaya manusia untuk mengubah hasilnya menjadi sia-sia
His deep sense of fatalism led him to accept the tragedy without attempting to fight it.
Rasa fatalisme yang mendalam membuatnya menerima tragedi tersebut tanpa mencoba melawannya.