Kamu dapat chat dari teman yang sudah lama tidak kamu temui. We should totally catch up soon! (Kapan-kapan kita ketemuan, yuk!) balasmu, dengan penuh semangat.
Dia membalas: Yeah, I would love that! (Iya, mau banget!)
Lalu... hening. Tidak ada kabar lagi. Dia tidak menyarankan waktu. Tidak ada kelanjutan. Kata kecil itu, would, terasa seperti tembok yang sopan. Kedengarannya positif, tapi hasilnya nol besar.
Buku pelajaran mengajarkan bahwa will adalah untuk masa depan dan would untuk pengandaian. Secara teknis ini benar, tapi penjelasan ini kehilangan seluruh 'nyawa' emosional di balik kata-kata ini. Ibaratnya seperti mengatakan kamera hanya untuk "menangkap cahaya". Penjelasan itu tidak memberitahumu cara menciptakan sebuah perasaan.
Perbedaan sebenarnya bukan tentang waktu. Tapi tentang kekuatan.
Will adalah deklarasi niat yang keras kepala. Seolah-olah kamu menunjuk ke masa depan dan berkata, "Ini akan terjadi." Will memproyeksikan realitas internalmu ke dunia luar.
Anggap saja seperti perintah yang kamu berikan pada dirimu sendiri atau bahkan pada sebuah objek. Ini tentang kekuatan murni yang tidak bisa dibengkokkan.
I will get this done before I go to sleep.
Ini akan kuselesaikan sebelum aku tidur.
My laptop won't connect to the Wi-Fi.
Laptopku tidak mau tersambung ke Wi-Fi.
I would go to the party, but I'm exhausted.
Aku sih mau datang ke pestanya, tapi aku lelah sekali.
Would you mind if I put on some music?
Keberatan tidak kalau aku memutar musik?
Will adalah Vektor, Would adalah Awan Kemungkinan
Inilah kebenaran terdalamnya. Menggunakan will itu seperti menggambar sebuah vektor: panah lurus dari A ke B. Ia memiliki arah dan kekuatan. Ia tidak bisa dibengkokkan. Itulah mengapa will berfungsi untuk janji yang kuat (I will be there - Aku pasti akan di sana), penolakan yang tegas (I will not accept this - Aku tidak akan menerima ini), dan fakta yang tak terbantahkan tentang masa depan (The sun will rise tomorrow - Matahari akan terbit besok). Will menyatakan sebuah realitas yang, dalam pikiran si pembicara, tidak dapat dinegosiasikan.
Di sisi lain, would menciptakan awan kemungkinan. Ia melepaskan diri dari realitas saat ini yang kaku dan membuka portal ke realitas alternatif. Inilah kekuatan supernya. Itulah mengapa ia menjadi kunci untuk setiap skenario "jika" (If I had the money, I would buy that car - Jika aku punya uang, aku akan membeli mobil itu). Would memungkinkan kita berbicara tentang dunia yang belum ada. Ini juga yang menjadikannya kunci kesopanan. Permintaan seperti Would you help me? (Maukah kamu membantuku?) dengan lembut mengundang seseorang ke masa depan yang memungkinkan di mana mereka membantu, daripada menuntutnya di masa sekarang.
Aturan Emasnya: Gunakan will ketika niatmu adalah kekuatan utama dan kamu melihat jalan ke depan sebagai garis lurus. Gunakan would ketika kamu perlu bermanuver di sekitar rintangan, perasaan orang lain, atau fakta sederhana bahwa realitas tidak persis seperti yang kamu inginkan. Will menyatakan apa yang pasti. Would menjelajahi apa yang mungkin.
I will finish the report by 5 PM.
Saya akan menyelesaikan laporan ini jam 5 sore.
She won't listen to my advice.
Dia tidak mau mendengarkan nasihatku.
Would you please close the door?
Tolong tutup pintunya?
If I were you, I would take the job.
Kalau aku jadi kamu, aku akan mengambil pekerjaan itu.
I would argue that the first movie was better.
Menurutku, film yang pertama lebih bagus.
We would like two tickets for the show.
Kami mau dua tiket untuk pertunjukannya.
I would rather stay in than go to a crowded bar.
Aku lebih suka di rumah saja daripada pergi ke bar yang ramai.