Kamu lagi scroll Instagram. Kamu lihat story dari seseorang yang dulu kamu kenal. Seseorang yang kamu kangenin. Dia lagi sama orang baru.
Otakmu langsung otomatis mikir. I shouldn't have ended things(Seharusnya aku nggak putus sama dia). Atau mungkin, He must have met her ages ago(Dia pasti udah ketemu cewek itu dari lama). Atau bahkan, We could have been happy(Kita bisa aja bahagia).
Ini bukan cuma soal tata bahasa. Ini soal kamu, di masa sekarang, yang 'mewarnai' masa lalu dengan perasaanmu.
Kebanyakan buku pelajaran mengajarkan frasa-frasa ini—should have, must have, could have—sebagai aturan sederhana: modal + have + bentuk ketiga dari kata kerja (seen, done, gone). Secara teknis ini benar, tapi sama sekali nggak kena ke intinya.
Frasa-frasa ini bukan tentang apa yang terjadi. Tapi tentang cerita yang kamu karang sendiri sekarang soal apa yang terjadi. Ini kayak filter emosi buat kenanganmu.
Tiga Lini Masa
Pikirkan tata bahasa ini seperti memilih satu dari tiga alam semesta paralel untuk sebuah kejadian di masa lalu.
- Dunia Penyesalan & Penghakiman (
should have)
Ini adalah lini masa di mana ada pilihan yang "lebih baik". Kamu menggunakanshould haveuntuk menunjukkan sebuah kesalahan, entah itu kesalahanmu sendiri atau orang lain. Ini adalah bahasanya kritik dan kekecewaan.
I should have studied more for the exam.
Seharusnya aku belajar lebih giat untuk ujian.
You shouldn't have posted that photo without asking me.
Seharusnya kamu nggak nge-post foto itu tanpa izin aku.
The package isn't here. The delivery driver must have left it with a neighbor.
Paketnya nggak ada di sini. Kurirnya pasti nitipin ke tetangga.
She didn't wave back. She can't have seen me.
Dia nggak balas lambaian tanganku. Nggak mungkin dia lihat aku.
We could have moved to another city, but we decided to stay.
Kita bisa saja pindah ke kota lain, tapi kita memutuskan untuk tetap di sini.
Be careful with that vase. I might have broken it.
Hati-hati dengan vas itu. Mungkin aku yang mecahin.
Mesin Waktu untuk Perasaanmu
Ini dia intinya. Tata bahasa ini memisahkan kejadian dari interpretasi.
Kejadian itu adalah sesuatu yang sudah pasti dan mati di masa lalu. The relationship ended(Hubungan itu berakhir). I failed the test(Aku gagal ujian). He didn't get the job(Dia nggak dapat pekerjaan itu). Ini semua fakta. Tidak ada emosi di dalamnya.
Frasa should have, must have, dan could have adalah alat yang kamu gunakan untuk menyuntikkan perasaanmu saat ini—penyesalan, kepastian, rasa ingin tahu—kembali ke masa lalu. Kamu sedang melakukan perjalanan waktu emosional.
Ketika seseorang berkata, I should have tried harder(Seharusnya aku berusaha lebih keras), mereka tidak sedang mendeskripsikan masa lalu. Mereka sedang mendeskripsikan kesedihan mereka saat ini tentang masa lalu.
Ketika seorang teman berkata, He must have been having a bad day(Dia pasti lagi sial hari itu), mereka bukan detektif. Mereka menggunakan logika untuk memberikan kenyamanan di masa sekarang.
Ini adalah salah satu fitur paling kuat dalam perangkat emosional bahasa Inggris. Ini memungkinkanmu untuk hidup di dua lini masa sekaligus: masa lalu yang faktual dan cerita emosional yang kamu lapisi di atasnya.
Aturan Emasnya: Dengarkan baik-baik tata bahasa ini. Ketika kamu mendengarnya, berhentilah mencari fakta tentang masa lalu. Sebaliknya, dengarkan emosi yang sedang dirasakan pembicara saat ini juga. Kamu akan mengerti bukan apa yang terjadi, tapi bagaimana perasaan mereka tentang hal itu. Dan biasanya, itu jauh lebih penting.
I `should have called` my parents more often.
Seharusnya aku lebih sering menelepon orang tuaku.
You `shouldn't have said` that to her.
Seharusnya kamu tidak mengatakan itu padanya.
He's not answering his phone. He `must have silenced` it.
Ponselnya tidak diangkat. Dia pasti men-silent-nya.
She `can't have finished` the whole report already.
Nggak mungkin dia sudah menyelesaikan seluruh laporannya.
We `could have taken` the train, but we drove instead.
Kita bisa saja naik kereta, tapi kita malah menyetir.
I don't know where my keys are. I `might have left` them at the cafe.
Aku tidak tahu kunciku di mana. Mungkin ketinggalan di kafe.
If I had known you were coming, I `would have baked` a cake.
Kalau aku tahu kamu akan datang, aku pasti sudah membuat kue.