Kamu lihat teman sekamarmu masuk cuma bawa sebiji bawang bombai, sebungkus mi instan, dan pasang muka dengan tatapan kosong. Nggak perlu jadi cenayang buat tahu apa yang bakal terjadi.
Buku pelajaran seringnya bilang kalau will dan be going to itu intinya sama aja. Kayak lempar koin buat ngomongin masa depan.
Itu bohong besar.
Be going to itu bukan soal meramal masa depan. Tapi soal melaporkan kondisi sekarang. Kamu pakai ini pas kamu bisa lihat jejak bukti yang mengarah langsung ke sebuah kejadian di masa depan. Benihnya udah ditanam.
Kamu lihat bahan-bahannya di meja. Masa depan itu udah mulai berjalan.
He's going to make instant noodles for dinner again.
Dia bakal masak mi instan lagi buat makan malam.
Look at those dark clouds. It's definitely going to rain.
Lihat awan gelap itu. Pasti bakal hujan.
I'm going to block his number. I've had enough.
Aku bakal blokir nomornya. Aku udah muak.
We're going to take a real vacation this year, no emails.
Tahun ini kami bakal liburan beneran, nggak ada email-emailan.
Panah Sudah Melesat dari Busurnya
Anggap aja will itu pilihan spontan yang dibuat saat itu juga, kayak nunjuk menu sambil bilang I'll have the pizza (Aku pesan pizza). Tapi be going to artinya keputusan itu udah dibuat jauh sebelum kamu duduk di restoran. Kamu udah mikirin pizza itu seharian. Proses keputusannya ada di masa lalu; cuma hasilnya aja yang ada di masa depan.
Inilah kenapa be going to terasa jauh lebih 'berat' dan lebih pasti. Kata ini menghubungkan sebab di masa lalu dengan akibat di masa depan. Ini memberitahu pendengar kalau ceritanya udah ditulis; kita cuma nonton adegan terakhirnya aja. Bedanya itu seperti bilang "Kayaknya film ini sedih deh" dengan melihat temanmu mengambil tisu dan tahu "Oh, dia bakal nangis."
Aturan Emasnya begini: Jangan pakai be going to untuk menebak-nebak masa depan. Pakai saat kamu udah bisa lihat bayangan masa depan di masa sekarang. Entah itu awan gelap di langit atau keputusan teguh di hati seseorang, penyebabnya udah ada di sini.