D
Dicread
BerandaBuku Teks Bahasa InggrisPhase 1Memahami 'Used to' dan 'Would': Antara Kontras dan Nostalgia
phase-1

Memahami 'Used to' dan 'Would': Antara Kontras dan Nostalgia

Last updated: 11 Mei 2026

Kamu lagi asyik scrolling galeri foto, melewati postingan-postingan pilihan beberapa minggu terakhir, dan masuk ke bagian 'arkeologi digital' dari tahun lalu. Terus tahun sebelumnya lagi. Tiba-tiba, kamu berhenti. Ada fotomu lima tahun yang lalu. Rambutnya aneh. Bajunya kacau balau. Kamu pun bergumam, I used to wear that all the time. (Dulu aku sering banget pakai baju itu.)

Kebanyakan buku pelajaran bakal bilang kalau used to dan would itu pada dasarnya sama saja untuk membicarakan kebiasaan di masa lalu.

Itu bohong.

Memang kebohongan yang niatnya baik, tapi inilah alasan kenapa banyak orang terdengar seperti robot saat bercerita tentang masa lalunya. Yang satu untuk menyatakan fakta. Satunya lagi untuk berbagi perasaan.

Foto "Before & After": Used To

Anggap saja used to itu alat untuk menciptakan kontras. Used to membuat garis pemisah yang tegas antara dulu dan sekarang. Ini adalah pernyataan faktual bahwa masa lalu itu berbeda. Pesan emosional di baliknya sering kali, "Gila, ya? Aku udah nggak kayak gitu lagi sekarang."

Ini seperti foto "before". Fokusnya bukan pada kenangannya itu sendiri, tapi pada perubahan yang terjadi sejak saat itu.

I used to live in Chicago, but I moved last year.

Dulu aku tinggal di Chicago, tapi tahun lalu aku pindah.

Note:Ini adalah fakta sederhana. Informasi kuncinya adalah perubahan lokasi. Kamu sedang menetapkan sebuah realitas baru.

She used to be my best friend.

Dulu dia sahabatku.

Note:Kalimat ini berat. Cerita sesungguhnya justru ada di dalam keheningan setelah kalimat ini diucapkan. Kalimat ini menyoroti jarak antara hubungan di masa lalu dan kenyataan saat ini. Poin pentingnya, `used to` bisa dipakai untuk apa saja: tindakan (`I used to run every day` (Dulu aku lari setiap hari)) dan keadaan (`I used to have a dog` (Dulu aku punya anjing)). Ini adalah alat universal untuk menggambarkan realitas masa lalu yang sudah 100% berakhir.

Kilas Balik Film: Would

Nah, would ini beda banget. Ini bukan alat untuk kontras, tapi untuk membawa pendengar larut dalam cerita.

Saat kamu menggunakan would, kamu sedang mengajak pendengar untuk masuk ke dalam kenanganmu. Kamu bukan menunjukkan foto "before"; kamu sedang memutarkan sebuah adegan dari film kehidupanmu. Rasanya hangat, nostalgia, dan emosional. Fokusnya pada perasaan dari kenangan itu, bukan faktanya.

Inilah kenapa would punya batasan penting: hanya bisa dipakai untuk tindakan. Kamu nggak bisa memakainya untuk menyatakan keadaan. Kamu nggak bisa bilang I would be shy atau I would have a cat. Kenapa? Karena keadaan itu cuma detail latar yang membosankan. Would hanya untuk aksi dalam ceritamu.

When I was a kid, my dad would read me a story every night before bed.

Waktu aku kecil, ayahku dulu sering membacakanku cerita setiap malam sebelum tidur.

Note:Ini bukan tentang fakta bahwa dia membaca cerita. Tapi tentang perasaan aman, rutinitas, dan kasih sayang. Kenangannya seakan bisa kita rasakan.

On our first dates, we would talk for hours at that one coffee shop.

Waktu kencan-kencan pertama kami dulu, kami biasa ngobrol berjam-jam di kedai kopi itu.

Note:Ini nostalgia murni. Kalimat ini melukiskan sebuah gambaran. Mengajak orang lain untuk ikut mengingat perasaan dari obrolan-obrolan awal itu.

Mesin Pencerita

Inilah rahasia yang membuka semuanya.

Pilihannya bukan soal grammar. Tapi soal cerita seperti apa yang ingin kamu sampaikan. Apakah kamu mau menekankan perubahan antara dirimu di masa lalu dan sekarang, atau kamu mau membuat seseorang ikut merasakan sebuah kenangan bersamamu?

Used to itu ibarat sutradara yang teriak "Cut!" dan menunjukkan adegan yang berbeda. Ini menciptakan jarak. Seolah-olah bilang: "Bagian film itu sudah selesai. Lihat di mana kita sekarang."

Would itu ibarat sutradara yang mendorong kamera untuk close-up. Ini menciptakan koneksi. Seolah-olah bilang: "Lupakan sejenak masa kini. Ayo hidup di momen ini bersamaku."

Inilah kenapa keduanya jadi sangat powerful saat digabungkan. Kamu pakai used to untuk membangun latar ceritanya, lalu pakai would untuk mengisi adegan itu dengan kehidupan.

Aturan Emas:
Gunakan used to untuk membangun latar faktual dari masa lalumu. Lalu, gunakan would untuk mendeskripsikan tindakan berulang dan perasaan yang terjadi di dalam latar tersebut.

Bayangkan seperti ini:
I used to live in a tiny apartment in the city. (Dulu aku tinggal di apartemen kecil di kota.) (Ini latarnya. Sebuah fakta.)
Every Sunday morning, my roommate and I would walk to the market. (Setiap Minggu pagi, aku dan teman sekamarku biasa jalan kaki ke pasar.) (Ini aksinya. Perasaannya.)
We would buy fresh bread and cheese and eat it in the park. (Kami biasa membeli roti dan keju segar lalu memakannya di taman.) (Lebih banyak aksi. Lebih banyak perasaan.)

Kamu bukan cuma menyatakan fakta. Kamu sedang bercerita. Kamu membuat masa lalu terasa hidup kembali. Itulah bedanya antara sekadar bisa bahasa Inggris dan benar-benar berkomunikasi dengannya.

Tim Proyek Dicread

Dicread adalah platform pembelajaran bahasa yang dirancang untuk membantu Anda menguasai bahasa Inggris praktis. Kami memecah tata bahasa dan kosakata yang kompleks menjadi konten yang sederhana dan mudah dipahami.