Bayangkan bahasa Inggris itu seperti sekumpulan perkakas untuk menggambarkan dunia di sekitar kita. Ada perkakas untuk menjelaskan tindakan—apa yang orang lakukan. Tapi, bagaimana kalau kita mau menjelaskan keadaan seseorang atau sesuatu? Untuk itu, kita butuh perkakas yang berbeda. Kita perlu cara untuk "menempelkan label" pada subjek, untuk menjelaskan identitas atau kondisinya.
Nah, inilah tugasnya pola kalimat Subject-Verb-Complement (SVC). Pola ini adalah salah satu struktur paling mendasar dalam bahasa Inggris. Dalam pola ini, kata kerjanya (verb) tidak menunjukkan aksi. Sebaliknya, ia berfungsi seperti lem, atau lebih tepatnya lagi, seperti tanda sama dengan (=). Kata kerja ini menghubungkan subjek dengan kata lain yang memberi nama baru atau mendeskripsikannya.
Strukturnya sederhana:
Subjek (hal yang dibicarakan) + Verb (si "tanda sama dengan") + Complement (si "label")
Complement ini "melengkapi" pemahaman kita tentang subjek. Ia memberi tahu kita siapa atau apa subjek itu. Mari kita lihat contohnya.
My new boss is surprisingly young.
Bos baruku sangat muda.
This apartment is much smaller than the pictures.
Apartemen ini jauh lebih kecil dari yang terlihat di foto.
Bukan Cuma 'Be': Keluarga Besar Linking Verb
Kata kerja SVC yang paling terkenal, tidak diragukan lagi, adalah to be (dalam segala bentuknya: am, is, are, was, were). Inilah bentuk paling murni dari kata kerja "tanda sama dengan". Namun, bahasa Inggris punya satu keluarga besar kata kerja spesial ini, yang sering disebut "linking verbs" atau "copulas", yang bisa membentuk kalimat SVC. Memahaminya akan membuat bahasa Inggrismu terdengar jauh lebih alami dan presisi.
Kata kerja ini sering kali bisa dikelompokkan menjadi beberapa grup utama:
- Kata Kerja Keberadaan (Verbs of Being): Ini adalah kata kerja yang menyatakan kondisi keberadaan atau penampakan. Grup ini mencakup
be,seem, danappear. Inilah cara paling langsung untuk melabeli subjek. - Kata Kerja Perubahan (Verbs of Becoming): Ini adalah kata kerja yang menunjukkan perubahan atau transisi dari satu keadaan ke keadaan lain. Contoh umumnya adalah
become,get(it's getting late),grow(he grew tired), danturn(the leaves turned brown). - Kata Kerja Indrawi (Verbs of the Senses): Nah, di sinilah bagian menariknya. Kata kerja seperti
look,feel,smell,sound, dantastebisa menjadi action verb (kata kerja aksi) atau linking verb. Perbedaannya sangat penting. Saat menjadi linking verb, kata-kata ini mendeskripsikan kualitas subjek dan diikuti oleh kata sifat (adjective).- Aksi (SVO): I
tastethe soup. (Di sini, "I" sedang melakukan aksi mencicipi). - Penghubung (SVC): The soup
tastessalty. (Di sini, "tastes" mendeskripsikan kualitas sup tersebut. Sup = asin).
- Aksi (SVO): I
Ini adalah kesalahan umum bagi para pembelajar. Ingat, jika sebuah kata kerja indrawi mendeskripsikan kualitas subjek, maka ia adalah linking verb dan harus diikuti kata sifat (adjective), bukan kata keterangan (adverb). Itulah sebabnya kita mengatakan "She looks beautiful," bukan "She looks beautifully." Kita sedang menempelkan label "beautiful" langsung pada "she". Detail kecil ini adalah penanda kefasihan yang sangat besar.
This plan sounds risky.
Rencana ini kedengarannya berisiko.
I know we just met, but this feels right.
Aku tahu kita baru saja bertemu, tapi rasanya ini cocok.
Mesin Realitas : is vs. seems
Ini bukan cuma soal tata bahasa. Ini adalah sistem operasi bagaimana penutur bahasa Inggris memberi sinyal kepastian.
Memilih antara is dan seems (atau looks, feels, dan lain-lain) adalah negosiasi bawah sadar yang terus-menerus dengan realitas.
Saat kamu pakai is, am, atau are, kamu sedang menancapkan bendera. Kamu memposisikan diri sebagai otoritas. This is the best way to do it. (Ini cara terbaik untuk melakukannya.) Kamu mengklaim kepemilikan atas fakta itu. Ini percaya diri, lugas, dan kadang terkesan agresif.
Ketika kamu menggunakan kata kerja seperti look, sound, atau feel, kamu sedang mundur selangkah. Kamu memposisikan diri sebagai pengamat, bukan pemilik informasi. That sounds like a good idea. (Kedengarannya itu ide bagus.) Kamu mendeskripsikan persepsimu tentang ide itu, bukan idenya sendiri. Ini lebih kolaboratif, lebih rendah hati, dan seringkali lebih aman dalam situasi sosial.
Belajar beralih antara dua mode ini adalah cara kamu mengontrol "termostat sosial"mu. Kamu bisa lugas dan berwibawa saat dibutuhkan, dan lembut serta jeli saat tidak.
Aturan Emasnya : Gunakan is untuk fakta yang siap kamu pertahankan. Gunakan seems, looks, atau feels untuk pengamatan yang siap kamu diskusikan.
She is the CEO.
Dia adalah CEO.
That jacket looks expensive.
Jaket itu terlihat mahal.
Your voice sounds tired.
Suaramu terdengar lelah.
This fabric feels soft.
Kain ini terasa lembut.
The kitchen smells amazing.
Dapur ini baunya harum sekali.
The soup tastes a little salty.
Supnya terasa sedikit asin.
He seems nice enough.
Dia kelihatannya cukup baik.
The situation appears to be under control.
Situasinya tampaknya terkendali.
He became a doctor after years of study.
Dia menjadi dokter setelah bertahun-tahun belajar.
She grew more confident over time.
Dia menjadi lebih percaya diri seiring waktu.
Despite the chaos, he remained calm.
Meskipun kacau, dia tetap tenang.