sash
Kata sash memiliki dua makna utama yang sangat berbeda tergantung pada konteksnya, yaitu dalam bidang pakaian dan arsitektur. Bagi penutur bahasa Indonesia, penting untuk membedakan kedua penggunaan ini agar tidak terjadi kekeliruan dalam penerjemahan.
Konteks Pakaian dan Aksesori
Dalam konteks busana, sash merujuk pada kain panjang yang dililitkan di pinggang atau disampirkan di bahu. Secara semantik, kata ini membawa nuansa formalitas, kehormatan, atau dekorasi. Berbeda dengan belt (sabuk) yang fungsi utamanya adalah untuk mengencangkan pakaian agar tidak melorot, sash lebih bersifat estetis atau simbolis. Contohnya, selempang yang dikenakan oleh pemenang kontes kecantikan atau pejabat negara saat upacara resmi.
Benar: The beauty queen wore a silk sash (Ratu kecantikan itu mengenakan selempang sutra).
Salah: Menggunakan sash untuk menyebut sabuk kulit biasa yang digunakan untuk celana jeans.
Konteks Arsitektur dan Bangunan
Dalam konteks konstruksi, sash merujuk pada bingkai atau kusen yang menahan kaca pada jendela. Istilah ini sangat spesifik untuk bagian jendela yang bisa digeser atau dibuka. Dalam bahasa Indonesia, kita cukup menyebutnya sebagai kusen atau bingkai jendela. Perlu diperhatikan bahwa sash berbeda dengan frame (bingkai luar yang tertanam di dinding); sash adalah bagian yang bergerak bersama kaca.
Contoh: The window sash is stuck (Kusen jendela itu macet).
Secara tata bahasa, sash adalah kata benda yang dapat dihitung (countable noun), sehingga dapat berbentuk jamak menjadi sashes ketika merujuk pada lebih dari satu objek.
Meanings
Sehelai kain lebar, biasanya dikenakan di satu bahu atau di sekeliling pinggang, sebagai hiasan atau tanda jabatan atau kehormatan
"The mayor wore a red silk sash during the ceremony."
Walikota mengenakan selempang sutra seremonial selama parade.
Bingkai yang menahan panel kaca jendela dan memungkinkan jendela tersebut untuk dibuka atau ditutup
"The old wooden window sash was stuck and would not open."
Kusen jendela kayu tua itu berderak tertiup angin.