religious
Kata religious dapat menggambarkan sistem kepercayaan seseorang atau suatu tindakan yang dilakukan dengan dedikasi tinggi, hampir seperti sebuah ritual.
Saat mendeskripsikan seseorang, ini berarti mereka menganut atau mengikuti suatu agama.
Saat mendeskripsikan suatu tindakan, kata ini menekankan pada keteraturan dan kepatuhan yang ketat terhadap rutinitas atau kebiasaan.
💬Casual Conversation
Ugh, Ryan is being super weird about going to his family dinner. He's saying it's a 'super religious thing' this year?
Duh, si Ryan aneh banget soal acara makan malam keluarganya. Katanya tahun ini itu 'acara yang religius banget'?
That's a new one. Is he just trying to bail on something again?
Baru tahu gue. Apa dia cuma mau cari alasan buat kabur lagi?
Meanings
berhubungan dengan atau percaya pada suatu agama
"a deeply religious person"
dilakukan secara teratur dan sungguh-sungguh, seolah-olah merupakan kewajiban agama
"religious about exercise"
Collocations & Compounds
religious beliefs
keyakinan atau prinsip khusus yang dipegang seseorang mengenai Tuhan atau sistem spiritual
Keyakinan religius mereka sangat mempengaruhi cara hidup mereka sehari-hari.
religious freedom
hak untuk menjalankan keyakinan seseorang tanpa campur tangan atau penganiayaan dari pemerintah
Kebebasan beragama adalah hak asasi manusia yang mendasar di banyak negara.
religious experience
perasaan subjektif akan adanya hubungan dengan Sang Pencipta atau kebangkitan spiritual
Dia menceritakan pengalaman religius yang mengubah hidupnya setelah bermeditasi di gunung.
religious devotion
kesetiaan dan komitmen yang kuat terhadap iman atau praktik keagamaan tertentu
Pengabdian religiusnya terlihat dari rutinitas ibadahnya yang tidak pernah terlewatkan.
religious observance
tindakan mengikuti aturan, adat istiadat, dan ritual suatu agama
Kepatuhan beragama dalam komunitas tersebut sangat dijunjung tinggi selama hari raya.
Idioms & Sayings
religious about something
melakukan sesuatu secara konsisten, teliti, dan sangat teratur
Dia sangat disiplin dalam melakukan rutinitas paginya.
Cultural Context
Kebiasaan Suci dalam Rutinitas: Mengapa Kita Sangat Disiplin Terhadap Ritual Kita
Ketika kita menggambarkan seseorang sebagai sosok yang religious about (sangat disiplin terhadap) kopi pagi atau rutinitas perawatan kulit mereka, kita sedang menggunakan jembatan linguistik yang menghubungkan hal-hal ilahi dengan hal-hal duniawi. Meskipun kata religious paling umum dikaitkan dengan teologi dan iman, penerapannya pada kebiasaan sehari-hari mengungkapkan sebuah kebenaran mendalam tentang psikologi manusia: otak kita mendambakan stabilitas ritual untuk melawan kekacauan eksistensi.
Dari perspektif psikologis, "ritual sekuler" ini berfungsi sebagai jangkar kognitif. Ketika kita melakukan suatu tugas dengan pengabdian yang religius—artinya kita melakukannya secara konsisten dan sungguh-sungguh tanpa mempedulikan suasana hati—kita sedang mengurangi "kelelahan dalam mengambil keputusan" (decision fatigue) yang sering menghantui pikiran manusia modern. Dengan mengubah kebiasaan menjadi ritual, kita memindahkan tindakan tersebut dari bagian otak yang sadar dan membutuhkan usaha (korteks prefrontal) ke basal ganglia yang lebih otomatis. Transisi ini menciptakan rasa aman dan prediktabilitas. Di dunia yang tidak terduga, tindakan bangun jam 5 pagi setiap hari menjadi sebuah tempat perlindungan untuk kendali diri.
Secara historis, persinggungan antara iman dan kebiasaan ini bukanlah suatu kebetulan. Tradisi monastik di Timur dan Barat dibangun di atas "Aturan"—sebuah jadwal doa, kerja, dan keheningan yang ketat. Struktur religius ini mengakui bahwa disiplin adalah pintu gerbang menuju kejernihan mental. Ketika kita menerapkan intensitas yang sama pada rutinitas gim atau praktik menulis jurnal saat ini, kita pada dasarnya sedang mempraktikkan salah satu bentuk kesadaran penuh (mindfulness). Kita memberi sinyal kepada diri sendiri bahwa tindakan spesifik ini bersifat sakral, bukan karena melibatkan Tuhan, tetapi karena hal itu menjaga kewarasan kita.
Keindahan dari menjadi sangat disiplin terhadap suatu kebiasaan terletak pada transformasi tugas tersebut. Sebuah pekerjaan rumah tangga berubah menjadi upacara; sebuah latihan fisik berubah menjadi meditasi. Dengan memperlakukan hal-hal biasa dengan konsistensi yang luar biasa, kita menemukan rasa tujuan dan identitas. Baik itu cara presisi upacara minum teh dilakukan di Jepang atau tingkat ketelitian obsesif seorang pemrogram dalam membuat dokumentasi, perilaku ini membuktikan bahwa jiwa manusia menemukan kedamaian bukan dalam keacakan, melainkan dalam pengabdian pada ritme yang stabil dan tak tergoyahkan.