crown
Kata ini membangkitkan kesan status puncak, baik secara fisik, politik, maupun metaforis. Kata ini terkait erat dengan konsep kedaulatan dan hak ilahi, serta membawa bobot tradisi, formalitas, dan otoritas mutlak. Saat digunakan secara fisik, kata ini merujuk pada titik tertinggi. Hal ini menciptakan jembatan konseptual antara bagian atas kepala atau bukit secara harfiah dengan 'puncak' hierarki sosial secara kiasan. Sebagai kata kerja, maknanya melampaui sekadar penempatan dan menyiratkan sebuah pencapaian puncak. Menobatkan atau menyempurnakan suatu pencapaian menunjukkan bahwa tindakan terakhir adalah bagian yang paling bergengsi atau sempurna dari proses tersebut, sehingga mengubah rangkaian peristiwa menjadi sebuah mahakarya yang lengkap.
Countable when referring to the physical object worn by a king or a dental cap ('The museum displays three ancient crowns'). Uncountable when referring to the anatomical top of the head ('He rubbed the crown of his head').
Meanings
Hiasan kepala berbentuk lingkaran yang dikenakan oleh penguasa sebagai simbol kekuasaan
"The king wore a gold crown encrusted with diamonds during the coronation."
Raja mengenakan mahkota emas bertatahkan berlian selama penobatan.
Bagian atas kepala, atau bagian tertinggi dari sesuatu (seperti bukit atau gigi)
"He felt a sharp pain at the crown of his head."
Dia merasakan sakit yang tajam di ubun-ubun kepalanya.
Memberikan kekuasaan kerajaan kepada seseorang; meletakkan mahkota di atas kepala
"The archbishop will crown the new queen tomorrow."
Uskup agung akan menobatkan ratu baru besok.
Melengkapi atau menyempurnakan sesuatu dengan cara yang paling istimewa
"A magnificent firework display served to crown the evening's celebrations."
Pertunjukan kembang api yang megah menjadi pelengkap sempurna bagi perayaan malam itu.